Beranda > Uncategorized > KPUku saying, KPUku Malang (menanggapi tulisan “STUDI BANDING, YES! PELESIRAN, NO!”)

KPUku saying, KPUku Malang (menanggapi tulisan “STUDI BANDING, YES! PELESIRAN, NO!”)

Beberapa hari kemarin saya sudah menanggapi tulisan mengenai disclaimer. Tulisan kedua dalam web kpu demak yang ingin saya tanggapi adalah tulisan mengenai studi banding. Tulisan yang berjudul “STUDI BANDING, YES! PELESIRAN, NO! ” itu bisa dilihat di alamat http://kpudemak.wordpress.com/2010/05/31/studi-banding-yes-pelesiran-no/

Dalam kalimat pembuka, penulis menyatakan bahwa:
Mengapa kalau anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR, termasuk DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota) lebih-lebih yang bersama-sama, melakukan studi banding ke luar negeri, kota atau daerah lain selalu disambut masyarakat dengan cibiran sinis ? Apakah sesungguhnya kesalahan mereka itu sehingga dicibir seperti itu? Demikian pula ketika anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) ngangsu kawruh ke KPU kabupaten/kota lain juga mendapatkan sorotan serupa. Apakah kebijakan yang diambil itu ada yang salah? Di manakah kesalahannya tersebut?
Barangkali tidak ada yang salah dengan prosedur, karena semua sudah terpenuhi. Akan tetapi kepatutan dan kepantasan studi banding layak dipertanyakan. Patutkah menghambur-hamburkan uang rakyat untuk hal itu? sudah tidak adakah cara lain yang pas? Betulkah perjalanan itu dilakukan dengan serius untuk belajar?? Apa yang sudah didapat secara kongkret dari studi banding tersebut??
Saya selalu menolak setiap perjalanan studi banding atau istilah lain seperti konsultasi maupun koordinasi, karena bagi saya hal itu sungguh-sungguh menghambur-hamburkan uang rakyat. Ada cara lain yang bisa ditempuh. Dunia sekarang sudah tidak selebar daun kelor. Dunia begitu luas hanya dengan duduk di depan computer yang tersambung dengan internet. Komunikasi dan koordinasi bisa dilakukan dibelakang meja.

Penulis menyatakan:
Perlu dimaklumi bahwa mereka itu terpilih (dalam pemilu dan atau seleksi) sebagai anggota dewan (dan juga KPU-red) bukan karena disebabkan oleh keahlian yang mereka kuasai. Tetapi, anggota legislatif itu terpilih oleh sebab suara dukungan yang mereka kumpulkan dalam pemilu, dan atau anggota KPU tersebut terpilih oleh sebab dari ‘kekayaan pengetahuan’ yang mereka miliki dalam ‘mensiasati’ problematika kepemiluan. Maka wajar kalau setelah terpilih sebagai anggota legislatif atau KPU, mereka masih gagap terhadap permasalahan yang mereka hadapi.
Oleh karena sudah ‘terlanjur’ mereka terpilih sebagai anggota legislatif dan KPU, mereka pun harus mau bekerja sesuai prosedur dan tata cara lembaga tersebut, meskipun tidak sesuai dengan ilmu yang mereka miliki, dan harus ‘dipaksa’ bekerja di luar bidang keilmuannya.

Sungguh konyol. Istilah “kekayaan pengetahuan” tapi diakhiri dengan kegagapan dalam melaksanakan tugas. Akhirnya harus ikhlas menerima keterlanjuran terpilih. Sungguh sedih saya membacanya. Bagaimana mungkin pemilu yang menyangkut kepentingan bangsa dan Negara diurus oleh orang-orang yang terlanjur terpilih?? Jangan-jangan mereka tidak punya niat baik dalam mendaftar menjadi anggota KPU? Jangan-jangan mereka tidak melalui prosedur yang seharusnya dalam mendaftar anggota KPU sehingga mereka punya gambaran tentang keterlanjuran terpilih dan keterpaksaan bekerja??? Sungguh naif. Dan terus terang sebagai bagian dari secretariat KPU, saya sedih membaca pernyataan demikian. Sungguh ungkapan yang tidak bertanggungjawab.

Penulis juga menyatakan:
Karena tidak satu item pun persyaratan yang mewajibkan calon anggota legislatif dan anggota KPU menguasai bidang khusus pada lembaga yang bakal di tempatinya. Maka akibatnya, seorang insinyur, dokter, ekonom, ahli hukum, dan lain-lain, atau pun seorang sarjana agama harus membidangi tugas di luar disiplin ilmunya.
Untuk bisa melaksanakan tugas ‘di luar keahliannya’ itu dengan baik, maka anggota legislatif dan KPU harus mau belajar, dengan menambal ‘kekurangan’nya. Cara belajar yang paling praktis dan efektif bagi anggota legislatif dan KPU itu bukan kuliah lagi di lembaga perguruan tinggi khusus. Bukankah sampai saat ini belum ada universitas yang membuka fakultas atau jurusan ke-DPR-an dan ke-KPU-an, atau jurusan ke-Legislatif-an dan Ke-pemilu-an? Cara belajar praktis dan efektis bagi anggota DPR dan KPU baru tersebut adalah dengan studi banding. Dengan cara itulah, kekurangan pengetahuan ‘skill’ tersebut akan cepat didapat dan dikuasainya.

Entah apa yang dimaksud dengan bidang khusus dalam pernyataan tersebut, yang pasti dalam tulisan sebelumnya sudah saya sampaiakan bahwa ada persyaratan dalam UU yang menyatakan bahwa syarat menjadi anggota KPU sesuai pasal 11 bagian e adalah “memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang tertentu yang berkaitan dengan penyelenggaraan Pemilu atau memiliki pengalaman sebagai penyelenggara Pemilu”.
Dan lagi-lagi saya tegaskan bahwa ada sekian banyak universitas yang memiliki jurusan ipol atau ipem yang mengajarakan tentang kepartaian, kepemiluan, dan seluk-beluknya.

Penulis menyatakan:
Demikian pula halnya di lembaga komisi pemilihan umum. Bagaimana seorang sarjana transportasi, sarjana agama, sarjana filsafatm sarjana ekonomi atau sarjana peternakan harus bekerja untuk mensukseskan pemilu yang sudah di depan mata? Baru saja diangkat (belum sampai ada pembekalan) mereka sudah ‘dipaksa’ menandatangani DPT (Daftar Pemilih Tetap) dan DCT (Daftar Calon Anggota Legislatif Tetap). Bagaimana seandainya data hasil kerja pejabat KPU sebelumnya tersebut invalid (cacat) ? Siapakah yang harus ‘digantung’ dan bertanggung jawab di depan pengadilan?

Saya katakan, jika merasa tidak mampu dan dangkal keilmuan tentang pemilu terus kenapa harus daftar jadi anggota KPU, lolos pula???

Iklan
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: